News  

Kalender Air dari BMKG Semacam Buku Hidup Bagi Warga Suku Asmat Papua

Makanya BMKG buat kalender untuk satu tahun

Asmat 386ABBB4-9320-4CD4-B6BE-454DE8C74947.jpeg
Potret Bapak Uskup dari Keusukupan Agung Kota Agats, Kabupaten Asmat, Papua MGR. Aloysius Murwito (22/6/2022). (ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti)

Agats, Jubi TV- Uskup dari Keusukupan Agung Kota Agats, Kabupaten Asmat, Papua MGR Aloysius Murwito mengatakan bahwa Suku Asmat biasa memanfaatkan kalender air dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk bertahan hidup.

“Makanya BMKG buat kalender untuk satu tahun dan selalu bisa didapatkan pada awal tahun. Selain (kalender) Masehi, kami punya kalender air, ini semacam buku hidup di sini,” kata Uskup Aloysius saat ditemui ANTARA di Kota Agats, Kabupaten Asmat, Papua, Kamis.

Setelah hampir 20 tahun berada di Kota Agats, kata Uskup MGR Alysius Murwito, kalender air adalah kalender yang berisikan data-data yang bisa memantau setiap saat kondisi air laut.

Baca juga  Dinkes Kabupaten Jayapura Siapkan Kelambu di Rumah Warga Sambut Kongres Masyarakat Adat 

Kalender air sangat berguna bagi pengemudi untuk mengarungi sungai dengan memperhatikan waktu pasang surut air sungai serta penduduk mencari bahan makanan seperti udang dan ikan.

“Ini penting sekali, karena untuk perjalanan tertentu. Belum tentu hari ini, jam ini kami bisa melewati jalur sungai ini. Untuk orang yang tidak akrab dengan sungai air pasang surut mutlak perlu,” ujar Aloysius.

Bila sungai surut atau yang dikenal Suku Asmat sebagai sungai Meti, masyarakat akan memanfaatkan waktu tersebut untuk bercocok tanam seperti sawi, bayam atau singkong, sebab air tidak akan menggenangi kebun.

Menurut Aloysius, masyarakat yang pekerjaan utamanya sebagai peramu atau pengumpul bahan sumber daya alam di daerah tertentu akan kesulitan untuk mencari sagu ataupun hasil hutan lainnya.

Baca juga  W20, Tiga Istri Dubes Batal ke Manokwari saat Injuri Time dengan Alasan tidak Jelas

Sebagai peramu, masyarakat harus menebang pohon sagu, memeras ampas sagu dan mengangkatnya menjadi sari pati tepung dalam sebuah tas bernama noken. Biasanya dari satu pohon bisa mendapatkan dua hingga tiga noken tergantung dengan besarnya pohon.

“Artinya, mau tidak mau mereka harus mendapatkan hasil secukupnya, lain-lain tidak ada. Mereka sudah puas dengan itu, itu makanan pokok mereka. Ternak tidak ada, kalau mau makan babi mereka akan berburu di hutan,” kata dia.(*)

Dapatkan update berita terbaru setiap hari dari News Room Jubi. Mari bergabung di Grup Telegram “News Room Jubi” dengan cara klik link https://t.me/jubipapua , lalu join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

banner 400x130