News  

Riset BRIN dan BKSDA Papua Barat, Tumbuhan “wil-gelfun” Dijadikan Obat Tradisional oleh Masyarakat Pulau Batanta

Ilustrasi - Seorang anak menunggu dagangan buah merah yang bermanfaat sebagai obat, khas Papua. FOTO ANTARA/Anang Budiono/Koz/ama/aa.

Ia menuturkan kearifan lokal tersebut umumnya lebih dikuasai oleh kelompok lanjut usia dan banyak tidak diketahui oleh kelompok generasi mudanya, sehingga perlu didokumentasikan sebagai warisan bagi generasi seterusnya di masa depan.

Jubi TV– Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Barat melakukan studi dan perekaman kearifan lokal pemanfaatan keanekaragaman hayati (kehati) tumbuhan oleh masyarakat adat di Pulau Batanta, Papua Barat.

“Hasil observasi sementara memperlihatkan total lebih dari 100 jenis tumbuhan digunakan oleh kelompok masyarakat adat untuk berbagai keperluan,” kata koordinator tim kajian dari BBKSDA Papua Barat Reza Saputra dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Jumat.

Reza menuturkan tumbuh-tumbuhan tersebut digunakan untuk berbagai keperluan termasuk obat-obatan, pangan lokal, pakaian, upacara tradisional, kerajinan, perlengkapan rumah, bangunan, serta material untuk membuat perahu.

Masyarakat adat Batanta menggunakan tumbuhan “wil-gelfun” (Coscinium fenestratum) yang banyak tumbuh liar di hutan untuk pengobatan tradisional malaria, sakit mata, gangguan pencernaan, serta badan letih.

Masyarakat setempat juga memanfaatkan tumbuhan “teliih” (Terminalia catappa) yang banyak tumbuh liar di pesisir untuk mengobati luka terbuka, gangguan pencernaan, hingga diare.

Sementara, peneliti dari BRIN Destario Metusala yang tergabung dalam kegiatan riset tersebut, mengatakan kearifan lokal masyarakat adat dalam memanfaatkan tumbuhan di sekitarnya perlu didokumentasikan agar pengetahuan tersebut tidak punah.

Ia menuturkan kearifan lokal tersebut umumnya lebih dikuasai oleh kelompok lanjut usia dan banyak tidak diketahui oleh kelompok generasi mudanya, sehingga perlu didokumentasikan sebagai warisan bagi generasi seterusnya di masa depan.

Tim melakukan observasi dan perekaman berbagai upaya pemanfaatan jenis-jenis tumbuhan oleh masyarakat adat setempat sebagai petunjuk awal kajian lebih lanjut terkait potensi keanekaragaman hayati di Pulau Batanta.

Pulau Batanta merupakan salah satu dari empat pulau besar di Kabupaten Raja Ampat yang terletak sekitar 34 kilometer dari arah barat Kota Sorong, Provinsi Papua Barat.

Pulau Batanta memiliki beragam tipe ekosistem yang masih sangat alami, mulai dari ekosistem pantai, hutan hujan tropis, dataran rendah, sampai dengan hutan pegunungan bawah pada ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut.

Bagian barat Pulau Batanta merupakan kawasan konservasi Cagar Alam Batanta Barat yang berfungsi untuk kegiatan penelitian dan perlindungan biodiversitas beserta ekosistemnya.(*)

Komentar
Dapatkan update berita terbaru setiap hari dari News Room Jubi. Mari bergabung di Grup Telegram “News Room Jubi” dengan cara klik link https://t.me/jubipapua , lalu join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 400x130