Sorong, Jubi TV– Ketua Pengurus Sekolah Wilayah (PSW) Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK-KMS) Kabupaten Tambrauw, Beyum Antonela Baru, menegaskan bahwa mulai tahun ajaran 2025 seluruh sekolah di bawah naungan yayasan wajib memberlakukan program ‘Noken ke Sekolah’. YPPK sudah mengeluarkan surat edaran resmi, tentang setiap siswa YPPK wajib membawa dan menggunakan noken di hari Kamis.
“Bagi kami, noken bukan hanya tas, tetapi identitas, kebudayaan, dan jati diri Orang Papua, khususnya di wilayah adat Tambrauw,” ujar Beyum Antonella Baru, Senin (8/9/2025).
Ia menegaskan hal itu sesuai Peraturan Daerah (Perda) Masyarakat Adat, Kabupaten Tambrauw. Dimana nilai-nilai budaya tidak berhenti di atas kertas, tetapi perlu dipraktikkan dalam kehidupan nyata.
“Perda masyarakat adat yang sudah ditetapkan harus diterjemahkan dalam tindakan nyata. Salah satu langkah itu adalah melalui penggunaan noken di sekolah, karena sekolah adalah ruang pembentukan karakter dan identitas generasi muda,” ujarnya.
terdapat delapan Sekolah Dasar (SD) dan satu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di bawah naungan PSW YPPK-KMS Tambrauw. Sekolah-sekolah itu tersebar di empat wilayah adat besar: Mpur, Ireres, Miyah, dan Abun.
Setiap sekolah diwajibkan menggunakan noken sesuai dengan ciri khas wilayah adatnya masing-masing.
Contohnya, SD YPPK-KMS St. Gabriel Sausapor harus memakai noken dari wilayah adat Abun. Sedangkan SD YPPK-KMS St. Benediktus Ases-Fef wajib memakai noken dari wilayah adat Miyah,” paparnya.
Langkah ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah strategi untuk memastikan bahwa budaya noken benar-benar dipertahankan dan diwariskan oleh generasi muda Papua lebih khusus di Kabupaten Tambrauw.
“Kami juga ingin memastikan bahwa mama-mama Papua yang membuat noken mendapat tempat. Jadi, kami mengutamakan hasil karya dari pengrajin lokal di setiap wilayah adat. Kami tidak akan menggunakan noken dari benang pabrik, kecuali dalam keadaan terpaksa,” kata Beyum.
YPPK juga sedang mendorong mata pelajaran khusus tentang noken untuk masuk ke kurikulum sekolah. Saat ini sudah berproses pada pembuatan modul ajarnya. “Kalau noken diwajibkan, anak-anak tidak hanya pakai, tetapi juga paham sejarah, makna, dan proses pembuatannya. Dengan begitu, mereka punya kesadaran bahwa identitas budaya ini adalah bagian dari hidup mereka,” jelasnya.
Beyum menilai, tantangan zaman modern sering membuat anak-anak lebih tertarik dengan produk-produk luar, sementara kearifan lokal diabaikan. Karena itu, ia menekankan pentingnya kampanye noken di sekolah dan Jaman boleh modern, tetapi identitas jangan berubah. Anak-anak harus tahu dari mana mereka berasal. Kalau kita tidak jaga, maka suatu saat generasi berikut bisa kehilangan jati diri,” ucapnya.
Lewat kebijakan ini, pihak yayasan juga mendorong kemandirian ekonomi mama-mama Papua melalui hasil karya noken yang mereka jual kepada masyarakat Dengan membeli noken dari mama-mama lokal. “Kita bukan hanya melestarikan budaya, tapi juga membantu ekonomi keluarga mereka.”
Beyum berharap, kebijakan “Noken ke Sekolah” ini bisa menjadi gerakan bersama, tidak hanya di lingkungan sekolah Katolik, tetapi juga di sekolah-sekolah lain di Tambrauw.(*)
Artikel ini sudah terbit di Jubi.id

