Gerakan Pembebasan di Tanah Byak

Caption: Ilustrasi parade tarian Wor dan Yosim Pancar di Biak, Biak Numfor - dok Humas Pemkab Biak Numfor.

Gerakan Koreri merupakan gerakan mesias dan pembebasan di Tanah Byak. Pelopornya ialah seorang perempuan dari Kampung Sowek, Supiori. 

BIAK, Jubi TV– Angganeta Menufandu lahir pada 25 September 1932 di Kampung Sowek, Kepulauan Insobabi, Kabupaten Supiori. Dia bernama lahir Inseren Sowek.

Menufandu berprofesi sebagai guru Pendidikan Agama Kristen di Supiori. Dia juga dijuluki Bin Dame atau pembawa kedamaian. Julukan itu disematkan karena Menufandu menjadi pemimpin Gerakan Koreri.

Gerakan Koreri tercetus pada 1938. Menufandu memimpin pergerakan messianis itu untuk menentang penjajahan di Tanah Papua.

Penamaan Koreri diambil dari Bahasa Byak, yakni ‘Ko’, dan ‘Rer’. Kata tersebut bermakna kita menjadi baru kembali.

Penamaan Koreri juga bertalian dengan mitologi petualangan Manarmakeri yang dikenal sebagai Kayan Biak atau Kayan Sanau. Laki-laki tua itu bisa sembuh dari kudis sehingga kulitnya menjadi bersih kembali. Manarmakeri pun bernazar akan kembali dengan kapal penuh harta kekayaan ke Papua.

Legenda Manarmakeri merupakan kisah penantian harapan hidup yang lebih baik. Mitologi itu mirip hikayat Ratu Adil.

‘Manarmakeri dipercaya sedang berada di arah barat. Namun, dia berjanji datang pada tujuh generasi kemudian dengan membawa koreri [kesejahteraan] bagi para pengikutnya,’ sebut mendiang Enos H Rumansara dalam sebuah penjelasannya.

Antrolog Universitas Cenderawasih tersebut menulis Gerakan Koreri yang dirintis Menufandu dilanjutkan generasi berikutnya di Biak pada 1942. Pada saat itu muncul pemimpin gerakan seperti  Stefanus Simopiaref, Mangginomi, Sangaji Namber, Steven Daman, dan Korinus Birmori.

‘Koreri merupakan gerakan perlawanan terhadap kekuatan atau sistem kekuasaan. Mereka memakai upacara adat [wor] untuk mempercepat kedatangan Koreri. Melalui syair dan lagu, mereka menggugah Mansar Manarmakeri untuk segera kembali,’ tulis Enos Rumansara sebagaimana dikutip dari Republika.com.

Gerakan perubahan dan pantangan

Angganeta Menufandu sebagai pemimpin Koreri melakukan perlawanan terhadap pendudukan Belanda dan Jepang di Tanah Byak. Dia bersama Stephanus Simopiaref melancarkannya pada era 1938-1943.

Arnold Mampioper dalam Mitologi dan Pengharapan Masyarakat Biak Numfor menyebut Gerakan Koreri bercampur dengan semangat mitologi Manarmakeri dan pengetahuan baru. Mitologi dan Pengharapan Masyarakat Biak Numfor merupakan makalah Mampioper pada seminar di Sekolah Tinggi Teologi GKI IS Kijne, Jayapura, 1976.

Menurut mitologi Byak, kedatangan Manarmakeri ke dunia akan diumumkan oleh utusannya yang disebut Konor. Konor mendapat perintah dari Manseren Manggundi melalui mimpi atau wahyu tentang kedatangan sang Mesias tersebut.

Karena itu, para penggikut harus membangun rumah baru untuk Manseren Manggundi. Kemudian, mereka harus memperbesar kediaman masing-masing untuk orang-orang yang akan dibangkitkan kembali saat kedatangan Manseren Manggundi.

Para pengikut juga mesti mempersiapkan kayu bakar karena akan terjadi kegelapan selama tiga hari sebelum kedatangan Manseren Manggundi.

Tidak hanya itu, mereka pun dilarang mengonsumsi labu dan daging babi. Larangan tersebut supaya warga tidak meninggalkan Kampung Sopen untuk mendapatkan daging babi dan labu.

Pantangan lain ialah para pengikut dilarang mengonsumi ular dan udang. Larangan itu berkaitan dengan mitos perubahan kulit Manarmakeri.(bersambung) 

Komentar
banner 400x130