Bupati Biak Numfor: Kalau banyak dampak buruknya, saya sendiri yang akan menghentikan

Penerbitan laporan jurnalistik ini adalah hasil kerja kolaborasi Jubi, Tempo, suara.com dan Project Multatuli

"Kita tidak perlu takut menghadapi perubahan,
kita harus menghadapi perubahan dengan bijak dan melihat apa sisi-sisi positifnya"

Bupati Biak Numfor, Herry Ario Naap

Penulis : Dominggus Mampioper dan Theo Kelen

Editor : Syofiardi Bachyul

Bupati Bupati-Biak-Numfor
Bupati Kabupaten Biak Numfor Herry Ario Naap - suara.com/Yamal

Jubi TV – Bupati Kabupaten Biak Numfor Herry Ario Naap mengatakan pembangunan bandar antariksa yang direncanakan LAPAN/BRIN di tanah ulayat masyarakat adat Warbon di Kampung Saukobye, Distrik Biak Utara akan berdampak positif kepada kabupaten itu.

Menurutnya dengan pembangunan fasilitas tersebut otomatis fokus perhatian kepada Kabupaten Biak Numfor akan menjadi lebih baik dalam upaya meningkatkan infrastruktur dasar dan kesejahteraan masyarakat. Ketika pembangunan terlaksana maka pengguna hotel dan transportasi akan meningkat karena kunjungan ke Biak akan tinggi.

“Kita tidak perlu takut menghadapi perubahan, kita harus menghadapi perubahan dengan bijak dan melihat apa sisi-sisi positifnya,” katanya kepada Suara.com, Project Multatuli, dan Majalah Tempo, media kolaborasi liputan dengan Jubi di Hotel Aryaduta Tugu Tani, Jakarta, Selasa (29/03/2022).

Dengan adanya pembangunan bandar antariksa, kata bupati, otomatis infrastruktur di Biak juga akan dibangun. Kemudian terjadi pengembangan sumber daya manusia Biak.

Pemkab Biak Numfor, kata Naap, telah membuat MoU (Memorandum of Understanding) dengan Profesor Yohanes Surya pada 2021 untuk mengirim anak-anak Biak belajar mengenai antariksa. Harapannya ketika mereka kembali, merekalah yang akan bekerja di bandar antariksa yang akan dibangun tersebut.

Itu, katanya, adalah upaya yang dilakukan Pemkab Biak Numfor untuk meningkatkan kapasitas SDM di Biak melalui bandar antariksa.

“Saya selalu katakan, saya minta anak-anak Biak dipersiapkan dulu sebelum dibangun. Saya katakan ke Menkomarves Luhut Binsar Pandjaitan untuk siapkan anak-anak sebagai SDM yang akan mengisi bandar antariksa. Saya tidak mau setelah bandar antariksa Biak dibangun, anak-anak Biak sendiri justru menjadi cleaning service, tukang jaga, tukang antar. Saya tidak mau,” ujarnya.

Naap mengatakan sebelum menyetujui pembangunan bandar antariksa di Biak sudah dilakukan kajian dampak baik dan buruknya. Menurup Naap pembangunan bandar antariksa akan banyak membawa dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat Biak.

Ia mengaku tidak akan membuat suatu kebijakan yang akan mengorbankan rakyatnya sendiri.

“Kalau banyak dampak buruknya, saya sendiri yang akan menghentikan dan tidak mengizinkan pembangunan terus berlangsung. Karena dampak positifnya banyak, jadi ayo kita kerjakan supaya memberi kesejahteraan bagi masyarakat,” katanya.

Menurut Naap lokasi pembangunan bandar antariksa telah dilepas masyarakat adat kepada LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) pada 1982 dan telah dibayar dengan nilai Rp15 juta untuk 100 hektare. Nilai pembayaran sebesar itu, menurutnya wajar karena jika nilai uang tersebut dikonversi saat ini maka nilainya besar.

“Tahun 1982 nilai sebesar itu luar biasa, kalau hari ini kita terima Rp20 miliar sampai Rp30 miliar gede, tapi nanti 20 hingga 30 tahun lagi nilainya juga tidak sebesar itu. Tapi saya tidak tutup mata akan hal ini,” ujarnya.

Lapan

Naap mengatakan Pembak Biak Numfor telah diundang pemerintah pusat untuk membicarakan dan mempersiapkan beberapa hal terkait pengembangan bandar antariksa Biak, terutama melakuakan sosialisasi kepada masyarakat dan tokoh adat pemilik ulayat.

Demi merealisasikan pembangunan bandar antariksa itu, katanya, Pemkab Biak Numfor melakukan pertemuan akbar yang melibatkan seluruh tokoh adat dan tokoh agama. Pertemuan untuk mendengar aspirasi masyarakat terhadap rencana pembangunan bandar antariksa tersebut.

Dalam pertemuan, kata Naap, pemilik ulayat membuat pernyataan sikap dan dukungan terhadap Pemkab Biak Numfor agar menyampaikan kepada pemerintah pusat untuk melanjutkan pembangunan bandar antariksa di lokasi itu.

Menurut bupati, terkait penolakan hanya ada beberapa kelompok yang mengatasnamakan kelompok adat tertentu yang tidak menyetujui pembangunan tersebut.

“Saya pikir adanya pro dan kontra atas pembangunan itu wajar. Tapi kita harus melihat dan menimbang apa manfaat dan dampak pembangunan itu bagi masyarakat,” ujarnya.

Naap mengatakan telah berdiskusi dengan Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan rakyat) dan pada 2023 akan dibangun khusus jalan lingkar Biak dan beberapa ruas jalan khusus menuju akses lokasi bandar antariksa tersebut.

Kemudian dalam rapat terakhir dengan Menkomarves Luhut Binsar Pandjaitan dan LAPAN yang kini di bawah BRIN sedang menunggu komitmen pihak Elon Musk untuk berinvestasi.

Ia mengaku tidak mengetahui nilai investasinya, namun pembangunan rencananya akan menggunakan dana bersama, APBN dengan investor. Sejauh ini sesuai pembahasan masih menunggu Elon Musk.

“Tapi saya tidak tahu, ini urusan pemerintah pusat dengan kementerian terkait. Kami tidak tahu. Intinya dalam pembangunan ini, kami harus menyambut, karena ini prospek yang baik. Kami harus menyiapkan lahan dulu untuk itu, maksudnya supaya ketika sudah ada kesepakatan, kita sudah siap,” katanya.

Terkait jarak pemukiman ke lokasi LAPAN hanya 1 km, Bupati mengatakan nanti pembangunan bandar antariksa akan menghadap ke arah timur sehingga berhadapan langsung dengan Laut Pasifik.

Pihaknya juga sudah berbicara dengan Pemerintah Provinsi Papua dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI supaya dibangun kebun raya di sekitar bandar antariksa itu.

“Karena ada masyarakat yang menyatakan bandar antariksa itu bisa berbahaya bagi masyarakat sekitar, maka dikolaborasikan bandar antariksa yang skala kecil itu dengan kebun raya,” katanya.

Naap mengatakan Pemkab Biak Numfor terus berupaya merangkul masyarakat yang saat ini menolak. Upaya itu dilakukan melalui Dinas Pendidikan dengan menyiapkan pemuda-pemuda terbaik pemilik hak ulayat dari tingkat SMP hingga Perguruan Tinggi. Pemkab Biak, katanya, bahkan membuka kuota khusus bagi anak pemilik hak ulayat untuk menempuh pendidikan sebagai bekal generasi masa depan mereka untuk bekerja.

“Dalam APBD saya alokasikan uang untuk ucapkan terima kasih kepada pemilik hak ulayat. Yang pasti saya sebagai kepala daerah tidak akan korbankan rakyat saya,” ujarnya.

Naap mengatakan telah berbicara dengan pemerintah pusat agar mendahulukan persiapan sumber daya manusia, terutama anak-anak Biak. Sehingga ketika pembangunan bandar antariksa diresmikan mereka sudah siap untuk bekerja di sana.

“Jadi komitmennya adalah saya minta persiapkan dulu anak-anak kami bersekolah, sehingga ketika pembangunan ini jalan dan jika sesuai rencana pada 2024 atau 2025 diresmikan, anak-anak kami sudah menjadi sarjana dan siap untuk bekerja di sana,” katanya.

Bupati mengaku selalu menopang dan mendukung masyarakat supaya tidak menjadi korban pembangunan. Pembangunan bandar antariksa, kata Naap, tidak akan mengorbankan masyarakat adat, tetapi akan merangkul, memberdayakan, dan masyarakat adat harus jadi orang yang berguna bekerja di bandar antariksa tersebut.

Bentuk dukungan Pemkab Biak Numfor kepada masyarakat adat, kata Naap, yaitu melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dengan lembaga masyarakat adat telah membuat peta wilayah adat. Pihaknya bahkan mendatangkan ahli dari Australia untuk melakukan kajian agar pembangunan ramah lingkungan dengan membuat kebun raya.

“AMDAL-nya sekarang ada di BRIN yang sedang melakukan kajian,” ujarnya. (*)

Artikel keempat dari empat artikel
Baca artikel pertama                               Baca artikel kedua                                         Baca artikel ketiga

Facebook
Twitter

Baca juga artikel indepth lainnya

Komentar
Dapatkan update berita terbaru setiap hari dari News Room Jubi. Mari bergabung di Grup Telegram “News Room Jubi” dengan cara klik link https://t.me/jubipapua , lalu join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
banner 400x130